Rehat Sejenak, Kembali pada Diri: Dekan FDCHT Ajak Binusian Mengenal Teknik TAT di BINUS PD Fest 2026

(FDCHT) – Binusian mengikuti sesi Rehat Sejenak, Kembali pada Diri: Mengenal Teknik Dasar TAT untuk Tubuh dan Pikiran yang dibawakan oleh Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism (FDCHT) BINUS University, Dr. Dea Prasetyawati, S.ST.Par., M.M., pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung secara virtual melalui Virtual Conference pukul 09.30–12.00 WIB ini merupakan bagian dari Wellbeing and Lifestyle Series dalam BINUS Personal Development Festival (PD Fest) 2026, yang diselenggarakan oleh Bina Nusantara Corporate Learning and Development (BCLND)
Sesi yang terbuka bagi seluruh Binusian ini mengangkat pentingnya mengenali kondisi emosi, memberikan ruang bagi diri untuk beristirahat, serta mempraktikkan teknik sederhana untuk membantu menjaga kesejahteraan tubuh dan pikiran. Tingginya jumlah pendaftar, yang mencapai 497 orang, menunjukkan besarnya perhatian BINUSIAN terhadap topik pengembangan diri dan kesejahteraan personal.
BINUS PD Fest 2026 merupakan program pengembangan personal yang tahun ini diselenggarakan bersamaan dengan perayaan 30 tahun BINUS. Melalui rangkaian Wellbeing and Lifestyle Series, BCLND menghadirkan kegiatan yang mendorong Binusian untuk memperhatikan keseimbangan antara aktivitas profesional, kehidupan pribadi, dan kesejahteraan diri.
Kontribusi Dekan FDCHT dalam Program Wellbeing BINUS
Keterlibatan Dr. Dea Prasetyawati sebagai narasumber menjadi salah satu bentuk kontribusi FDCHT dalam mendukung program pengembangan diri yang dikelola BCLND bagi komunitas BINUS.
Selain menjalankan perannya sebagai Dekan FDCHT yang menaungi bidang komunikasi digital serta perhotelan dan pariwisata, Dr. Dea merupakan Certified TAT® Professional dan telah menekuni praktik penyembuhan holistik sejak 2011. Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam membawakan sesi yang tidak hanya berisi pemaparan konsep, tetapi juga mengajak peserta mengikuti praktik secara langsung.
Dalam materi yang disampaikan, Dr. Dea mengangkat pesan:
“Rehat sejenak bukan berarti berhenti. Rehat adalah cara kita kembali pada diri — agar bisa melangkah lagi dengan lebih utuh.”
Pesan tersebut menjadi landasan sesi yang mengajak peserta menyediakan waktu untuk mengenali kondisi diri di tengah kesibukan bekerja maupun belajar. Peserta diperkenalkan pada beberapa praktik sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri sebagai bagian dari perhatian terhadap kesejahteraan tubuh dan pikiran.
Mengenali Kondisi Emosi melalui Check-in
Sebelum sesi praktik dimulai, peserta diminta menyiapkan ruang yang tenang, posisi duduk yang nyaman, kertas dan pena, serta air minum. Persiapan ini dilakukan agar peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan lebih fokus.
Sesi dibuka melalui aktivitas check-in emosi. Setiap peserta diminta menuliskan angka dari 1 hingga 10 untuk menggambarkan kondisi perasaan mereka, disertai satu kata yang mewakili emosi saat itu. Jawaban disampaikan melalui kolom chat dalam ruang konferensi virtual.
Selanjutnya, Dr. Dea mengajak peserta mengenali dan memahami emosi melalui enam langkah berdamai dengan emosi, yaitu mengenali, menyadari, mengakui, menerima, melepaskan, dan memaafkan. Dalam pendekatan yang disampaikan, emosi tidak perlu dilawan atau diabaikan. Sebaliknya, individu diajak untuk merasakan, menerima, dan memberikan ruang bagi emosi tersebut untuk berlalu.
Peserta juga diperkenalkan pada lima emosi dasar serta keterkaitannya dengan organ tubuh berdasarkan perspektif tradisional Timur. Materi ini menjadi bagian dari pengenalan terhadap hubungan antara kondisi emosi dan pengalaman tubuh.
Dua Praktik: Magic Fingers dan Tapas Acupressure Technique
Setelah pengenalan emosi, peserta mengikuti praktik pertama, yaitu Magic Fingers, yang berakar dari Jin Shin Jyutsu. Dalam latihan ini, peserta menggenggam satu per satu jari tangan secara lembut selama tiga hingga lima menit. Selama praktik, peserta diarahkan untuk menarik napas perlahan dan menyadari emosi yang dikaitkan dengan masing-masing jari.
Setelah praktik pertama, peserta diberikan jeda singkat untuk minum dan meregangkan tubuh sebelum melanjutkan ke teknik berikutnya, yaitu Tapas Acupressure Technique (TAT®).
Dr. Dea memperkenalkan TAT sebagai teknik yang dikembangkan oleh Tapas Fleming dan termasuk dalam keluarga pendekatan pikiran–tubuh yang dikenal sebagai Energy Psychology. Teknik ini memadukan sentuhan lembut pada titik-titik akupresur di wajah dan kepala dengan pemusatan perhatian pada hal yang ingin dipulihkan.
Dalam praktik TAT terpandu, peserta diminta memilih satu persoalan kecil yang sedang mengganggu pikiran atau perasaan mereka pada hari itu. Peserta kemudian memberikan penilaian intensitas persoalan tersebut pada skala 0–10, mengikuti panduan praktik langkah demi langkah, dan mengukur kembali perubahan yang dirasakan setelah latihan.
Melalui tahapan tersebut, peserta diajak mengamati kondisi diri sebelum dan sesudah praktik. Sesi kemudian dilanjutkan dengan refleksi dan tanya jawab untuk memberikan kesempatan kepada peserta menyampaikan pengalaman serta pertanyaan terkait teknik yang telah diperkenalkan.
Pentingnya Memahami Batas Praktik Perawatan Diri
Selain memperkenalkan teknik, Dr. Dea juga memberikan pengingat mengenai batas penggunaannya. Teknik yang diperkenalkan dalam sesi ini merupakan praktik perawatan diri (self-care), bukan pengganti bantuan medis maupun psikologis.
Peserta dipersilakan menghentikan praktik kapan saja apabila merasakan emosi yang terlalu kuat atau tidak nyaman. Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut, peserta dianjurkan untuk mencari dukungan dari tenaga profesional yang sesuai.
Sebelum kegiatan berakhir, peserta juga diingatkan untuk mencukupi kebutuhan air putih, beristirahat, serta mengamati kondisi tubuh dan batin selama 24 jam setelah mengikuti praktik. Pengingat ini menjadi bagian dari upaya mendorong peserta tetap memperhatikan respons diri setelah kegiatan selesai.
Wellbeing sebagai Bagian dari Pengembangan Binusian
Melalui sesi Rehat Sejenak, Kembali pada Diri: Mengenal Teknik Dasar TAT untuk Tubuh dan Pikiran, BINUS PD Fest 2026 menghadirkan ruang bagi Binusian untuk mengenali kondisi emosional dan memberikan perhatian terhadap kesejahteraan diri.
Keterlibatan Dr. Dea Prasetyawati sebagai narasumber juga memperlihatkan kontribusi FDCHT dalam mendukung program BCLND yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan kompetensi profesional, tetapi juga memperhatikan aspek personal dan kesejahteraan komunitas BINUS.
Sesi ditutup dengan refleksi dan pesan yang menjadi pengingat bagi peserta untuk terus memberikan perhatian kepada diri sendiri dan lingkungan sekitar:
“Semoga Semua Hidup Berbahagia — May all beings be happy.”
Melalui kegiatan ini, BINUS PD Fest 2026 mengajak Binusian untuk memahami bahwa pengembangan diri tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan dan pencapaian, tetapi juga dengan kesadaran untuk mengenali kebutuhan diri, menjaga keseimbangan, dan menyediakan waktu untuk beristirahat.**
Comments :