Dekan FDCHT BINUS University Pandu Talkshow “Dompet di Era AI: Lucu-Lucu Berisiko” di BINUS CREATES 2027 Outlook

(FDCHT) – Pengelolaan keuangan pribadi di tengah ketidakpastian ekonomi dan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) menjadi topik utama dalam talkshow Dompet di Era AI: Lucu-Lucu Berisiko pada kegiatan BINUS CREATES 2027 Outlook: Business Innovation & Tech. Kegiatan yang diselenggarakan pada Jumat, 30 Oktober 2026, ini menghadirkan Ligwina Hananto, Founder & CEO QM Financial, financial trainer, sekaligus stand-up comedian, sebagai narasumber. Talkshow dipandu oleh Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism (FDCHT) BINUS University, Dr. Dea Prasetyawati, S.ST.Par., M.M., yang bertindak sebagai host.
Talkshow berlangsung selama 30 menit, pukul 09.00–09.30 WIB, sebagai bagian dari rangkaian sesi pagi BINUS CREATES 2027 Outlook. Dengan pendekatan percakapan yang ringan dan diselingi humor, diskusi ini mengangkat persoalan serius mengenai cara individu mengambil keputusan finansial ketika menghadapi perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, dan semakin luasnya penggunaan AI.
Mengusung tema besar Human-Centric AI for an Age of Uncertainty and Sustainable Growth, BINUS CREATES 2027 Outlook menghadirkan ruang diskusi mengenai hubungan antara inovasi bisnis, perkembangan teknologi, dan peran manusia. Dalam konteks tersebut, talkshow ini menekankan bahwa meskipun AI dapat membantu proses pengelolaan keuangan, keputusan finansial tetap membutuhkan pertimbangan kritis dan tanggung jawab manusia.
Kontribusi Dekan FDCHT dalam BINUS CREATES 2027 Outlook
Keterlibatan Dr. Dea Prasetyawati sebagai host menjadi salah satu bentuk partisipasi FDCHT BINUS University dalam forum yang membahas perkembangan bisnis dan teknologi. Melalui perannya, Dr. Dea memandu percakapan antara narasumber dan audiens agar isu keuangan pribadi serta pemanfaatan AI dapat dipahami melalui perspektif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Diskusi disusun dalam lima segmen utama. Pembahasan dimulai dengan keputusan finansial ketika kondisi ekonomi mengalami gejolak, dilanjutkan dengan batas pemanfaatan AI dalam pengelolaan keuangan pribadi. Selanjutnya, diskusi membahas dilema finansial yang dihadapi para pemimpin, kesalahpahaman dalam penerapan program financial wellness di perusahaan, serta pesan praktis yang dapat diterapkan peserta dalam menghadapi ketidakpastian.
Mengelola Keuangan di Tengah Ekonomi yang Bergejolak
Pada segmen pertama, Ligwina Hananto membahas dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga terhadap daya beli masyarakat. Ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan tidak mengalami kenaikan yang sebanding, kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari ikut terpengaruh.
Dalam menghadapi situasi tersebut, terdapat tiga hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, menyiapkan dana darurat melalui instrumen yang relatif aman dan likuid, seperti reksa dana pasar uang. Kedua, menjaga konsistensi tujuan keuangan jangka panjang sesuai dengan jangka waktu yang telah direncanakan. Ketiga, menghindari penambahan utang baru yang tidak diperlukan.
Di sisi lain, perubahan nilai tukar juga dapat membuka peluang ekonomi bagi individu yang memiliki akses terhadap pasar internasional. Pelemahan rupiah dapat membuat jasa dari Indonesia relatif lebih terjangkau bagi klien mancanegara. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan melalui pekerjaan freelance global dan ekspor jasa digital, seperti desain, coding, serta produksi konten.
Ligwina merangkum perspektif tersebut melalui pernyataan:
“Dolar naik itu musibah kalau kita belanja dolar, tapi berkah kalau kita dibayar dolar.”
Pernyataan ini menggambarkan bahwa perubahan kondisi ekonomi tidak selalu membawa dampak yang sama bagi setiap orang. Kemampuan membaca peluang dan menyesuaikan strategi keuangan menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan tersebut.
AI Membantu Perencanaan, tetapi Manusia Tetap Memegang Kendali
Segmen kedua membahas pemanfaatan AI dalam pengelolaan keuangan pribadi. Teknologi ini dapat membantu berbagai aktivitas, mulai dari melakukan perhitungan, membuat simulasi keuangan, memahami istilah finansial, merangkum berita ekonomi, hingga menyusun anggaran.
Namun, penggunaan AI tetap memiliki batas. Penentuan tujuan hidup, pemahaman terhadap profil risiko pribadi, kedisiplinan dalam mengelola pengeluaran, serta kemampuan membedakan peluang investasi yang rasional dari tren sesaat tetap membutuhkan penilaian manusia.
Salah satu tantangan yang dibahas adalah kecenderungan mengikuti fear of missing out (FOMO), termasuk mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi yang belum dipahami secara memadai. Karena itu, informasi yang dihasilkan AI maupun informasi dari sumber lain perlu dievaluasi secara kritis sebelum digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Ligwina menggambarkan posisi AI dalam pengelolaan keuangan melalui pernyataan:
“AI itu kalkulator yang pintar ngomong. Pilotnya tetap kita.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu untuk mempercepat analisis dan perencanaan, tetapi keputusan finansial beserta konsekuensinya tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Dilema Pemimpin: Berani Berinovasi tanpa Mengabaikan Risiko
Pembahasan berikutnya diarahkan pada tantangan para pemimpin dalam mengambil keputusan di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan teknologi. Sikap yang terlalu berhati-hati maupun terlalu berani sama-sama dapat menimbulkan risiko.
Sikap yang terlalu konservatif dapat menyebabkan nilai uang tergerus inflasi dan membuat organisasi tertinggal dalam mengadopsi perkembangan teknologi, termasuk AI. Sebaliknya, keputusan yang terlalu agresif, seperti mengambil utang untuk ekspansi tanpa perhitungan matang atau mengikuti hype pasar, dapat menimbulkan kerugian.
Karena itu, diperlukan keseimbangan antara keberanian mengejar peluang dan kehati-hatian dalam mengelola risiko. Fondasi keuangan perlu diamankan terlebih dahulu sebelum individu maupun organisasi melakukan eksperimen dan mengambil langkah pengembangan secara bertahap.
Perspektif ini relevan bagi para pemimpin yang harus menentukan arah organisasi di tengah perubahan ekonomi dan teknologi. Inovasi tetap diperlukan, tetapi keputusan harus mempertimbangkan kapasitas, risiko, serta keberlanjutan organisasi.
Financial Wellness Bukan Sekadar Seminar Tahunan
Segmen keempat membahas penerapan financial wellness di lingkungan perusahaan. Program kesehatan finansial karyawan sering kali masih dilaksanakan dalam bentuk seminar satu kali dalam setahun. Padahal, kebutuhan finansial setiap karyawan berbeda dan tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan yang seragam.
Diskusi mengidentifikasi beberapa kesalahpahaman dalam penerapan program tersebut. Pertama, perusahaan terkadang langsung memberikan materi investasi tanpa terlebih dahulu membantu karyawan menyelesaikan persoalan keuangan mendasar, seperti utang dan penggunaan layanan paylater. Kedua, materi yang diberikan sering kali disamaratakan untuk seluruh karyawan meskipun kondisi dan kebutuhan finansial mereka berbeda. Ketiga, program tidak selalu dilengkapi indikator keberhasilan yang jelas.
Bagi praktisi learning and development, isu ini penting karena kesehatan finansial karyawan tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan individu, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas, tingkat pergantian karyawan (turnover), hingga risiko kecurangan (fraud) di perusahaan.
Dalam diskusi tersebut, Ligwina menegaskan:
“Financial wellness bukan benefit, tapi risk management untuk perusahaan.”
Pernyataan ini memperluas cara pandang perusahaan terhadap kesehatan finansial karyawan. Program financial wellness tidak semestinya hanya diposisikan sebagai fasilitas tambahan, melainkan juga sebagai bagian dari pengelolaan risiko dan upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
Tiga Pesan untuk Menghadapi Ketidakpastian
Pada segmen penutup, Ligwina menyampaikan tiga pesan utama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, mengamankan dana darurat dan menghindari penambahan utang yang tidak diperlukan. Kedua, tetap konsisten menabung atau berinvestasi sesuai dengan tujuan keuangan, tanpa menghentikan perencanaan hanya karena kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Ketiga, memanfaatkan AI sebagai alat bantu, tetapi tetap menempatkan manusia sebagai pengendali keputusan.

Ketiga pesan tersebut merangkum inti pembahasan Dompet di Era AI: Lucu-Lucu Berisiko. Teknologi dapat memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dan melakukan analisis, tetapi literasi, kedisiplinan, serta tanggung jawab manusia tetap menjadi fondasi dalam pengambilan keputusan finansial.
Talkshow berlangsung dengan suasana cair dan jenaka. Interaksi antara host dan narasumber membuat topik keuangan lebih mudah diikuti tanpa mengurangi substansi pembahasan. Pesan penutup yang disampaikan dalam sesi tersebut dirangkum melalui ungkapan:
“Stay bold, tapi jangan sembrono.”
Memperkuat Perspektif Human-Centric AI
Melalui BINUS CREATES 2027 Outlook, pembahasan mengenai AI tidak hanya diarahkan pada kemampuan teknologi dalam membantu pekerjaan, tetapi juga pada bagaimana manusia menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Keterlibatan Dekan FDCHT BINUS University, Dr. Dea Prasetyawati, sebagai host dalam talkshow ini menunjukkan partisipasi pimpinan fakultas dalam forum strategis yang menghubungkan isu komunikasi, bisnis, dan teknologi. Pendekatan komunikasi yang hangat dan mudah dipahami juga menjadi bagian penting dalam menjembatani pembahasan lintas disiplin kepada audiens.
Pada akhirnya, diskusi Dompet di Era AI: Lucu-Lucu Berisiko mengingatkan bahwa kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan manusia dalam menilai informasi, memahami risiko, dan menentukan pilihan. AI dapat membantu manusia mengambil keputusan dengan lebih terinformasi, tetapi kendali dan tanggung jawab tetap berada pada manusia.**
Comments :