(FDCHT) – Kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa, termasuk mereka yang menempuh pendidikan di bidang teknik. Untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan tersebut, Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism (FDCHT) BINUS University, Dr. Dea Prasetyawati, S.ST.Par., M.M., membawakan sesi Speak with Confidence: Conquering Public Speaking Anxiety dalam rangkaian Enrichment Week BINUS ASO School of Engineering pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 10.20–12.00 WIB di Ruang BC 601, Kampus BINUS ASO School of Engineering, ini secara khusus ditujukan bagi mahasiswa BINUS ASO. Melalui pendekatan berbasis riset dan latihan langsung, peserta diajak memahami penyebab kecemasan saat berbicara di depan umum sekaligus mempelajari cara mengelola rasa gugup agar dapat menyampaikan gagasan dengan lebih jelas dan percaya diri.

Sesi ini mengangkat pengalaman yang kerap dialami mahasiswa ketika harus melakukan presentasi, seperti tangan gemetar, jantung berdebar, hingga kehilangan konsentrasi atau pikiran kosong. Tantangan tersebut relevan dengan aktivitas akademik mahasiswa teknik, mulai dari menyampaikan laporan praktikum, mempresentasikan proyek capstone, mengikuti sidang, hingga menghadapi wawancara magang dan presentasi kepada klien.

Kontribusi Dekan FDCHT dalam Pengembangan Kompetensi Mahasiswa Teknik

Keterlibatan Dr. Dea sebagai narasumber dalam Enrichment Week merupakan bentuk kontribusi FDCHT dalam memperkaya pengalaman belajar mahasiswa lintas fakultas. Kolaborasi antara FDCHT dan BINUS ASO School of Engineering ini mengusung semangat Rise Together, dengan memberikan ruang bagi mahasiswa teknik untuk mengembangkan keterampilan komunikasi sebagai pelengkap kompetensi teknis.

Dr. Dea membuka sesi dengan sapaan khas, “Yellooo, Engineers!”, yang langsung mencairkan suasana. Ia juga berbagi pengalaman bahwa rasa gugup bukan sesuatu yang hanya dialami oleh orang yang baru belajar berbicara di depan umum. Bahkan, bidang yang menjadikan komunikasi sebagai kompetensi profesional pun tidak terlepas dari tantangan tersebut.

Dalam sesi ini, Dr. Dea turut menceritakan perjalanan pribadinya, mulai dari Malang hingga tampil di berbagai panggung nasional dan ASEAN. Pengalaman tersebut menjadi ilustrasi bahwa kepercayaan diri tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses belajar, persiapan, dan latihan yang berkelanjutan.

Gugup Bukan Tanda Gagal

Dalam menjelaskan fenomena kecemasan berbicara di depan umum, Dr. Dea mengutip penelitian Ferreira Marinho dkk. (2017) terhadap 1.124 mahasiswa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekitar enam dari sepuluh mahasiswa melaporkan ketakutan berbicara di depan umum yang disertai gejala fisik.

Di sisi lain, survei NACE Job Outlook 2026 menempatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif di antara tiga prioritas utama pemberi kerja dalam menilai lulusan baru, bersama kemampuan bekerja sama dalam tim dan pemecahan masalah.

Kedua perspektif tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan komunikasi tidak hanya dibutuhkan dalam kegiatan akademik, tetapi juga menjadi bagian dari kesiapan memasuki dunia profesional.

Bagi mahasiswa teknik, keterampilan berbicara diperlukan dalam berbagai situasi, seperti menjelaskan hasil praktikum, mendemonstrasikan proyek capstone, menyampaikan hasil penelitian dalam sidang, memimpin diskusi tim, mengikuti wawancara magang, hingga mempresentasikan solusi kepada klien.

Dr. Dea menjelaskan bahwa jantung berdebar dan tangan gemetar merupakan respons tubuh ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap menantang. Reaksi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang tidak mampu berbicara di depan umum.

Ia juga memperkenalkan konsep spotlight effect dan illusion of transparency. Kedua konsep ini menjelaskan kecenderungan seseorang merasa bahwa orang lain memberikan perhatian sangat besar terhadap dirinya, termasuk ketika ia sedang gugup. Padahal, audiens belum tentu menyadari kegugupan pembicara sebesar yang dibayangkan oleh pembicara itu sendiri.

Dr. Dea merangkum pesan tersebut melalui pernyataan:

“Your racing heart is invisible. Your clear explanation is not.”

Pesan ini mengajak mahasiswa untuk tidak terlalu terfokus pada gejala gugup yang dirasakan, tetapi mengarahkan perhatian pada kejelasan pesan yang ingin disampaikan kepada audiens.

Tiga Teknik Praktis Mengelola Public Speaking Anxiety

Untuk membantu peserta menghadapi kecemasan saat berbicara, Dr. Dea memperkenalkan tiga teknik praktis yang dapat digunakan sebelum maupun selama presentasi.

  1. Reframe: Mengubah Cara Memaknai Rasa Gugup

Teknik pertama adalah reframe, yaitu mengubah cara seseorang memaknai respons emosional yang muncul sebelum tampil. Alih-alih memaksakan diri untuk merasa tenang, peserta diajak mengganti pernyataan dalam pikiran dari “I am nervous” menjadi “I am excited”.

Pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa kecemasan dan antusiasme sama-sama merupakan kondisi emosional dengan tingkat energi yang tinggi. Dengan mengubah cara memaknainya, seseorang dapat mengarahkan energi tersebut untuk mendukung penampilannya.

  1. Cyclic Sigh: Mengatur Pernapasan

Teknik kedua adalah cyclic sigh, yaitu latihan pernapasan dengan dua kali tarikan napas dan satu embusan panjang. Teknik ini diperkenalkan sebagai salah satu cara membantu menenangkan respons tubuh sebelum seseorang tampil atau berbicara di depan audiens.

Peserta diajak mempraktikkan teknik tersebut sebagai bagian dari persiapan sebelum melakukan presentasi.

  1. Problem–Approach–Result–Ask: Menyusun Struktur Presentasi

Teknik ketiga berkaitan dengan penyusunan materi presentasi menggunakan struktur Problem–Approach–Result–Ask. Struktur ini berfungsi sebagai panduan ketika pembicara kehilangan alur atau tiba-tiba mengalami pikiran kosong.

Dengan mengikuti empat tahapan tersebut, pembicara dapat kembali mengarahkan penjelasan: persoalan apa yang dihadapi, pendekatan apa yang digunakan, hasil apa yang diperoleh, dan apa yang ingin disampaikan atau diminta dari audiens.

Selain ketiga teknik tersebut, Dr. Dea juga membagikan empat kebiasaan yang dapat diterapkan ketika berada di atas panggung atau melakukan presentasi, yaitu berbicara secara perlahan dengan memberikan jeda, menjaga kontak mata dengan satu orang untuk setiap gagasan, berdiri menggunakan postur terbuka, serta menjelaskan isi grafik sebelum menampilkannya.

Peserta juga diperkenalkan pada strategi pemulihan ketika menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai rencana, seperti lupa materi, mendapatkan pertanyaan tajam dari penguji, atau mengalami kegagalan ketika melakukan demonstrasi proyek.

Praktik 60 Detik: Belajar Menjelaskan Gagasan dengan Jelas

Sesi tidak hanya berisi penjelasan konsep dan teknik. Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan berbicara melalui latihan berpasangan yang disebut 60-Second Practice.

Dalam latihan ini, setiap mahasiswa diminta menjelaskan proyek yang sedang dikerjakan selama 60 detik seolah-olah sedang menerangkannya kepada orang yang tidak memiliki latar belakang teknis. Tantangan tersebut mendorong mahasiswa menyederhanakan istilah dan konsep teknis agar dapat dipahami oleh audiens yang lebih luas.

Setelah praktik, masing-masing pasangan memberikan satu apresiasi dan satu saran perbaikan. Beberapa peserta juga mendapat kesempatan untuk mencoba berbicara di depan seluruh kelas.

Melalui latihan ini, mahasiswa tidak hanya berlatih menyampaikan materi, tetapi juga belajar membangun kejelasan komunikasi, mengelola waktu, dan menyesuaikan cara menjelaskan gagasan berdasarkan karakteristik audiens.

30-Day Confidence Ladder: Membangun Kepercayaan Diri secara Bertahap

Sebagai tindak lanjut dari sesi, Dr. Dea memperkenalkan 30-day confidence ladder, yaitu rencana latihan bertahap selama 30 hari untuk membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.

Program tersebut dibagi menjadi empat tahapan mingguan. Pada minggu pertama, mahasiswa didorong untuk lebih aktif mengajukan pertanyaan di kelas. Minggu kedua, mereka diminta merekam penjelasan selama dua menit untuk mengevaluasi cara berbicara dan penyampaian materi.

Pada minggu ketiga, mahasiswa mulai berlatih melakukan presentasi dalam kelompok kecil. Selanjutnya, pada minggu keempat, mereka ditantang untuk menjadi sukarelawan sebagai presenter pertama dalam sebuah kegiatan atau diskusi.

Pendekatan bertahap ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun pengalaman berbicara melalui tantangan yang meningkat secara progresif. Kepercayaan diri tidak hanya dibangun melalui pemahaman teori, tetapi juga melalui pengalaman praktik yang dilakukan secara konsisten.

Dr. Dea menutup sesi dengan pesan:

“Nervous means you care. Prepared means you’re ready. Practised means you’re confident.”

Pesan tersebut menegaskan tiga hal yang saling berkaitan dalam membangun kepercayaan diri: rasa gugup menunjukkan bahwa seseorang peduli terhadap apa yang akan dilakukan, persiapan membuat seseorang lebih siap, dan latihan yang berkelanjutan membantu membentuk kepercayaan diri.

Antusiasme mahasiswa terlihat dalam interaksi selama kegiatan dan kebersamaan pada sesi foto bersama setelah acara. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kolaborasi lintas fakultas yang mengusung semangat Rise Together antara FDCHT dan BINUS ASO School of Engineering.

Memperkuat Kompetensi Komunikasi Mahasiswa Lintas Fakultas

Melalui kontribusinya dalam Enrichment Week BINUS ASO School of Engineering, FDCHT BINUS University turut mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa di luar bidang keahlian utama mereka. Kemampuan teknis perlu dilengkapi dengan keterampilan menyampaikan gagasan, menjelaskan solusi, dan berkomunikasi secara efektif kepada berbagai audiens.

Bagi calon insinyur, kemampuan tersebut menjadi bekal penting ketika memasuki lingkungan profesional, baik saat bekerja dalam tim, mempresentasikan hasil proyek, menjelaskan persoalan teknis kepada klien, maupun mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas fakultas dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh bagi mahasiswa BINUS. Melalui pendekatan berbasis riset dan latihan langsung, mahasiswa tidak hanya didorong untuk mampu membangun solusi teknis, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk mengomunikasikan solusi tersebut secara jelas dan profesional.**