Dekan FDCHT BINUS University Berbagi tentang Professional Presence dan Kolaborasi di BINUS Square Learning Festival 2026

(FDCHT) – Kemampuan membangun kolaborasi profesional tidak hanya ditentukan oleh keterampilan berkomunikasi, tetapi juga oleh cara seseorang menghadirkan diri, memahami orang lain, dan membangun hubungan yang saling menghargai. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam sesi Interpersonal and Business Presence for Professional Collaboration yang dibawakan oleh Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism (FDCHT) BINUS University, Dr. Dea Prasetyawati, S.ST.Par., M.M., pada Kamis, 9 Oktober 2026, di Oak Room, BINUS Square.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB ini merupakan bagian dari BINUS Square Learning Festival 2026 dan didukung oleh Bina Nusantara Corporate Learning and Development (BCLND). Sesi berbahasa Indonesia tersebut dirancang sebagai sharing session bagi tim BINUS Square yang dalam pekerjaan sehari-hari berinteraksi dengan penghuni, orang tua, rekan kerja antartim, serta mitra dan vendor.
Melalui sesi selama dua jam ini, peserta diajak memahami bahwa kolaborasi profesional tidak hanya bergantung pada pesan yang disampaikan, tetapi juga pada bagaimana seseorang membangun kehadiran dan membuat orang lain merasa dihargai dalam interaksi.
Kontribusi Dekan FDCHT dalam Pengembangan Kompetensi Tim BINUS Square
Keterlibatan Dr. Dea Prasetyawati sebagai narasumber menjadi salah satu bentuk kontribusi FDCHT dalam mendukung pengembangan kompetensi sumber daya manusia di lingkungan BINUS. Latar belakang FDCHT dalam bidang komunikasi digital serta perhotelan dan pariwisata memiliki keterkaitan dengan kebutuhan BINUS Square sebagai unit layanan hunian yang mengedepankan komunikasi efektif dan kualitas pelayanan.
Pada awal sesi, Dr. Dea mengajak peserta melakukan refleksi melalui sebuah pertanyaan sederhana: apa yang dirasakan orang lain ketika kita memasuki sebuah ruangan?
Pertanyaan tersebut menjadi pengantar untuk membahas kesan pertama, energi, sikap, bahasa tubuh, dan kesadaran seseorang terhadap kehadirannya di lingkungan kerja. Menurut Dr. Dea, professional presence bukan sekadar penampilan atau upaya untuk terlihat penting, melainkan kemampuan membangun interaksi yang membuat orang lain merasa dihargai.
Ia menyampaikan:
“Presence is not about looking important. It is about making others feel that they matter.”
Pesan tersebut menekankan bahwa kehadiran profesional perlu dibangun melalui kredibilitas, keaslian, empati, dan kemampuan memahami situasi serta orang-orang yang berinteraksi dengan kita.
Kerangka 4P: Presence, People, Purpose, Progress
Dalam sesi ini, Dr. Dea memperkenalkan kerangka 4P sebagai pendekatan untuk membangun interpersonal and business presence. Kerangka tersebut terdiri atas Presence, People, Purpose, dan Progress, yang masing-masing menggambarkan aspek penting dalam membangun kolaborasi profesional.
- Presence: Membangun Cara Hadir yang Profesional
Aspek Presence membahas bagaimana seseorang menghadirkan dirinya melalui citra diri, kepercayaan diri, bahasa tubuh, dan kesadaran emosi. Kehadiran profesional tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana seseorang membawa diri, menunjukkan kredibilitas, bersikap autentik, dan membaca situasi.
- People: Memahami Orang Lain melalui Mendengarkan
Aspek People menekankan pentingnya mendengarkan untuk memahami, bukan sekadar menunggu giliran untuk membalas pembicaraan. Peserta diajak memperhatikan isyarat verbal dan nonverbal, memahami sudut pandang orang lain, serta mengajukan pertanyaan terbuka untuk membangun komunikasi yang lebih bermakna.
- Purpose: Membangun Keselarasan dalam Komunikasi
Aspek Purpose berfokus pada kemampuan menciptakan kesepahaman melalui komunikasi yang jelas, pengelolaan konflik, dan negosiasi. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah tahapan listen, clarify, respond, confirm.
Peserta juga diajak memahami perbedaan antara posisi dan kepentingan. Posisi merujuk pada apa yang diminta seseorang, sedangkan kepentingan menjelaskan alasan atau kebutuhan di balik permintaan tersebut. Memahami keduanya dapat membantu pihak-pihak yang berinteraksi menemukan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan bersama.
- Progress: Menjaga Pertumbuhan dan Kredibilitas
Aspek Progress mengajak peserta untuk terus mengembangkan diri melalui umpan balik, refleksi, dan konsistensi dalam membangun kredibilitas. Kehadiran profesional bukan sesuatu yang dibentuk dalam satu kesempatan, tetapi dikembangkan melalui perilaku dan interaksi sehari-hari.
Dalam menjelaskan pentingnya keseimbangan antara kepercayaan diri dan empati, Dr. Dea menyampaikan:
“Confidence without empathy can become arrogance. Empathy without clarity can become confusion. Professional collaboration needs both.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kolaborasi profesional membutuhkan keseimbangan antara kepercayaan diri, empati, dan kejelasan komunikasi. Kepercayaan diri tanpa empati dapat membuat seseorang terkesan arogan, sementara empati tanpa kejelasan dapat menimbulkan kebingungan.
Mengembangkan Keterampilan melalui Praktik Interaktif
Selain pemaparan materi, sesi ini dilengkapi sejumlah aktivitas praktik agar peserta dapat menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi kerja sehari-hari.
Salah satunya adalah 2-Minute Listening Challenge. Dalam latihan ini, peserta berpasangan. Salah satu peserta menceritakan tantangan nyata yang pernah dihadapi di tempat kerja, sementara pasangannya bertugas mendengarkan selama dua menit tanpa menyela ataupun langsung memberikan saran. Setelah itu, peserta diminta merefleksikan kembali hal-hal yang telah didengarnya.
Latihan ini mengajak peserta menyadari bahwa mendengarkan secara aktif membutuhkan perhatian, kesabaran, dan kemampuan memahami pengalaman orang lain sebelum memberikan respons.
Peserta juga melakukan latihan menulis ulang pengumuman yang ambigu menjadi pesan yang lebih jelas. Pesan yang disusun harus mencantumkan informasi penting, seperti waktu, cara pelaksanaan, dan narahubung. Aktivitas ini memperlihatkan pentingnya komunikasi yang spesifik agar informasi tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Praktik berikutnya adalah Win-Win Challenge. Dalam simulasi tersebut, dua tim dihadapkan pada situasi ketika mereka membutuhkan ruang dan waktu yang sama. Peserta diminta menggali alasan di balik permintaan masing-masing pihak, kemudian mencari alternatif atau opsi ketiga yang dapat mengakomodasi kepentingan bersama.
Diskusi juga mengangkat sejumlah situasi yang dekat dengan pekerjaan tim BINUS Square, seperti perbedaan pendapat antarrekan kerja, keluhan penghuni atau orang tua, serta kesalahpahaman yang terjadi dalam koordinasi antartim. Melalui contoh tersebut, peserta diajak menerapkan keterampilan komunikasi, empati, klarifikasi, dan negosiasi dalam konteks pekerjaan yang nyata.
Komitmen 30 Hari untuk Mengembangkan Professional Presence
Menjelang akhir sesi, peserta diajak memetakan professional brand masing-masing. Mereka diminta merefleksikan bagaimana orang lain mengenal diri mereka saat ini dan ingin dikenal sebagai pribadi profesional seperti apa pada masa mendatang.
Perbedaan antara kondisi saat ini dan gambaran yang ingin dicapai menjadi dasar untuk menyusun rencana pengembangan diri. Peserta kemudian membuat 30-Day Presence Commitment yang berisi tiga hal: perilaku yang akan dihentikan, kebiasaan yang akan mulai dilakukan, dan hal-hal positif yang akan terus dipertahankan.
Sebagai penutup, Dr. Dea mengajukan pertanyaan reflektif kepada peserta: setelah bekerja bersama Anda, apa yang ingin orang lain rasakan?
Pertanyaan ini mengajak peserta melihat kembali dampak kehadiran mereka terhadap orang-orang di lingkungan kerja. Profesionalisme tidak hanya diukur dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dari kualitas hubungan dan pengalaman yang dibangun melalui interaksi sehari-hari.
Antusiasme peserta terlihat dalam suasana kebersamaan pada akhir kegiatan, yang ditandai dengan sesi foto bersama narasumber dan tim BINUS Square.
Memperkuat Budaya Kerja yang Komunikatif dan Kolaboratif
Melalui BINUS Square Learning Festival 2026, FDCHT BINUS University turut berkontribusi dalam pengembangan kompetensi profesional di lingkungan BINUS, khususnya dalam aspek komunikasi interpersonal, kehadiran profesional, dan kolaborasi.
Materi yang disampaikan Dr. Dea menempatkan komunikasi sebagai bagian penting dari kualitas hubungan kerja. Kemampuan mendengarkan, memahami kebutuhan orang lain, menyampaikan pesan secara jelas, mengelola perbedaan, serta membangun kepercayaan menjadi bekal yang relevan bagi tim yang setiap hari berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan ini juga menegaskan bahwa professional presence tidak berhenti pada bagaimana seseorang menampilkan dirinya, tetapi tercermin dari bagaimana ia memperlakukan orang lain dan membangun pengalaman positif melalui kolaborasi.
Dengan demikian, pengembangan kompetensi komunikasi dan interpersonal menjadi salah satu fondasi untuk mendukung budaya kerja yang lebih komunikatif, empatik, dan kolaboratif di lingkungan BINUS.
Comments :