(FDCHT) – Inovasi produksi film berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa Digital Media Communication BINUS University berhasil memperoleh pengakuan di tingkat internasional. Film berjudul The King, The Bride and The Blade, karya kolaboratif Mariko Rizkiansyah sebagai produser bersama tiga mahasiswa Digital Media Communication, yaitu Haidy Marendha, Nadya Najwah Anggraeni, dan Rifqi Amanta, berhasil masuk nominasi MIT Global Hackathon.

Pencapaian ini menjadi salah satu wujud kolaborasi akademik dan kreativitas dalam mengeksplorasi perkembangan teknologi AI di industri media dan perfilman. Melalui proyek ini, dosen dan mahasiswa tidak hanya bereksperimen dengan teknologi generative AI, tetapi juga mengembangkan karya sinematik yang mengangkat kekayaan cerita rakyat Indonesia ke dalam perspektif produksi film digital kontemporer.

Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa dalam Produksi Film AI

Film The King, The Bride and The Blade diproduseri oleh Mariko Rizkiansyah, dosen BINUS University, dengan melibatkan tiga mahasiswa Digital Media Communication, yakni Haidy Marendha, Nadya Najwah Anggraeni, dan Rifqi Amanta.

Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana lingkungan akademik dapat menjadi ruang eksperimen dan inovasi dalam pengembangan karya audiovisual. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), dosen dan mahasiswa bekerja bersama untuk mengintegrasikan perspektif komunikasi, kreativitas sinematik, dan pemanfaatan teknologi AI.

Proses pengembangan film menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai tahapan produksi, mulai dari pengembangan gagasan, storytelling, pengembangan karakter, visualisasi adegan, hingga eksplorasi teknologi generative AI dalam membangun pengalaman sinematik.

Menghidupkan Kembali Legenda Jayaprana dan Layonsari

The King, The Bride and The Blade mengangkat inspirasi dari legenda Bali tentang Jayaprana dan Layonsari, sebuah kisah klasik yang sarat dengan nilai cinta, kesetiaan, pengkhianatan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Cerita ini menghadirkan konflik seorang raja yang terobsesi terhadap Layonsari, istri Jayaprana, seorang prajurit kerajaan yang dikenal karena kesetiaan dan pengabdiannya. Demi mendapatkan Layonsari, sang raja menggunakan kekuasaannya untuk mengirim Jayaprana dalam sebuah misi berbahaya yang sesungguhnya dirancang sebagai jebakan.

Melalui pendekatan visual sinematik berbasis AI, legenda tersebut diinterpretasikan kembali menjadi karya audiovisual yang menawarkan perspektif kontemporer terhadap persoalan universal mengenai cinta, pengorbanan, kesetiaan, dan kekuasaan.

Dengan tagline “A Legend of Love. Betrayed by Power.”, film ini tidak hanya mengadaptasi cerita rakyat, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang bagaimana kekuasaan yang tidak terkendali dapat menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

AI dan Masa Depan Industri Kreatif

Masuknya The King, The Bride and The Blade dalam nominasi MIT Global Hackathon menjadi momentum untuk memperlihatkan potensi pemanfaatan AI dalam perkembangan industri kreatif, khususnya produksi film dan media digital.

Dalam konteks pendidikan Digital Media Communication, penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup pengembangan gagasan, storytelling, penyusunan narasi, eksplorasi visual, dan pengambilan keputusan kreatif.

Proyek ini memperlihatkan bahwa AI dapat menjadi instrumen untuk memperluas kemungkinan produksi film. Teknologi tersebut memungkinkan kreator mengeksplorasi visualisasi karakter, latar historis, atmosfer, dan adegan dramatik melalui pendekatan yang berbeda dari proses produksi film konvensional.

Namun, kekuatan sebuah film tetap terletak pada kreativitas manusia dalam membangun cerita, menghadirkan konflik, menciptakan karakter, dan menyampaikan pesan kepada penonton.

Membawa Cerita Indonesia ke Panggung Global

Salah satu kekuatan The King, The Bride and The Blade terletak pada upayanya mengangkat legenda Indonesia sebagai materi penceritaan yang dapat dinikmati audiens internasional. Kisah Jayaprana dan Layonsari memiliki nilai universal yang relevan lintas budaya, mulai dari cinta dan kesetiaan hingga konflik antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab moral.

Di tengah perkembangan teknologi generative AI, kekayaan cerita rakyat Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai format media baru, termasuk film, animasi, serial digital, dan pengalaman interaktif.

Nominasi MIT Global Hackathon menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dalam ekosistem inovasi digital global.

Melalui kolaborasi Mariko Rizkiansyah sebagai produser bersama Haidy Marendha, Nadya Najwah Anggraeni, dan Rifqi Amanta, The King, The Bride and The Blade menunjukkan bagaimana pendidikan komunikasi, teknologi AI, dan kekayaan budaya dapat dipertemukan dalam sebuah karya kreatif.

Saksikan Karya Film The King, The Bride and The Blade

Untuk melihat hasil eksplorasi kreativitas dan teknologi AI dalam film ini, masyarakat dapat menyaksikan karya The King, The Bride and The Blade melalui kanal YouTube berikut:

Tonton film:
https://www.youtube.com/watch?v=qNra0WOaLXg&list=PLNeFTWki0sjUPFEATvu0e2bLbwVVDEPnF&index=28

Dari legenda Nusantara menuju panggung inovasi global, karya kolaboratif BINUS Digital Media Communication ini menjadi gambaran bahwa masa depan perfilman tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan generasi kreatif dalam menghadirkan cerita yang memiliki makna dan identitas budaya.