Site Supervisor Gathering 2026 yang diselenggarakan Communication Department BINUS University pada 8 Oktober 2026 di BINUS University Anggrek Campus menjadi forum diskusi antara akademisi dan perwakilan industri untuk mengevaluasi kompetensi mahasiswa serta memperkuat kesiapan mereka menghadapi dunia kerja melalui program internship.

(FDCHT) – Kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja tidak cukup ditentukan oleh penguasaan teknologi dan keterampilan digital. Kemampuan berpikir kritis, mengolah data, berkomunikasi secara profesional, beradaptasi, serta menunjukkan inisiatif dan sikap kerja yang baik juga menjadi bekal penting bagi calon lulusan. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Site Supervisor Gathering 2026 yang diselenggarakan Communication Department BINUS University pada Kamis, 8 Oktober 2026, di BINUS University Anggrek Campus.

Kegiatan ini mempertemukan site supervisor dan perwakilan industri yang terlibat dalam pendampingan mahasiswa selama menjalani program internship. Melalui forum Focus Group Discussion (FGD), para peserta berbagi pengalaman, mengevaluasi kompetensi mahasiswa, serta menyampaikan masukan mengenai kemampuan yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Forum tersebut juga diarahkan untuk mengidentifikasi ekspektasi industri terhadap lulusan komunikasi pada masa mendatang. Masukan yang dihimpun diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan program internship dan pembelajaran di lingkungan Communication Department BINUS University.

FGD Membahas Empat Aspek Kompetensi dan Kolaborasi

Diskusi kelompok dibagi menjadi dua sesi agar peserta dapat membahas pengalaman dan kebutuhan industri secara lebih mendalam. Grup 1 dimoderatori oleh Dr. Tri Adi Sumbogo, sedangkan Grup 2 dimoderatori oleh Dr. Mariko Rizkiansyah.

Kedua kelompok menggunakan empat aspek pembahasan, yaitu KEEP, IMPROVE, EXPECT, dan COLLABORATE. Aspek KEEP digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi mahasiswa yang perlu dipertahankan. IMPROVE membahas keterampilan dan perilaku kerja yang masih perlu diperkuat. EXPECT menggali harapan industri terhadap lulusan komunikasi di masa depan, sedangkan COLLABORATE membahas peluang kerja sama yang dapat dikembangkan antara perguruan tinggi dan industri.

Keempat aspek tersebut membantu menghubungkan pengalaman supervisor dalam mendampingi mahasiswa dengan kebutuhan pengembangan pembelajaran di kampus.

Grup 1: Literasi Data, Berpikir Kritis, dan Komunikasi Strategis

Diskusi Grup 1 menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki sejumlah kualitas yang dinilai positif oleh industri. Kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, komunikasi, dan kecepatan belajar atau learning agility menjadi kompetensi yang perlu terus dipertahankan. Dalam sejumlah pengalaman yang dibahas, mahasiswa bahkan dinilai mampu melanjutkan dari program internship menjadi karyawan, yang menunjukkan adanya potensi untuk berkembang di lingkungan profesional.

Namun, perkembangan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap keterampilan dasar. Mahasiswa tetap perlu memahami bagaimana memilih media dan pendekatan komunikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi. Walaupun banyak perusahaan menerapkan sistem digital dan paperless, media konvensional masih dapat digunakan dalam konteks tertentu. Karena itu, fleksibilitas dalam menentukan saluran komunikasi menjadi bagian dari kompetensi profesional.

Salah satu area yang perlu diperkuat adalah kemampuan mengelola dan menginterpretasikan data. Penguasaan perangkat digital saja belum cukup apabila mahasiswa belum mampu menggunakan data untuk mendukung keputusan dan strategi komunikasi. Kemampuan dasar seperti pengelolaan data dan penggunaan Microsoft Excel dinilai penting untuk menunjang pekerjaan sehari-hari.

Industri juga menekankan pentingnya critical thinking, ketahanan menghadapi tantangan (resilience), komunikasi interpersonal, disiplin, serta sikap kerja. Kompetensi tersebut diperlukan agar mahasiswa tidak hanya mampu menyelesaikan tugas, tetapi juga dapat memahami konteks pekerjaan, berinteraksi dengan rekan kerja, dan menjaga konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab.

Dari Pembuat Konten Menjadi Komunikator Strategis

Dalam menghadapi kebutuhan industri mendatang, mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membuat konten atau menggunakan perangkat digital. Mereka perlu mengembangkan kompetensi sebagai komunikator strategis yang mampu menggabungkan kecakapan teknologi dengan analisis, riset, kreativitas, dan pertimbangan manusia.

Literasi generative AI, pengelolaan data, komunikasi berbasis data (data-driven communication), riset, storytelling, literasi informasi, dan analisis mendalam menjadi sejumlah kemampuan yang perlu mendapat perhatian. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga perlu disertai kemampuan mengevaluasi informasi dan mempertimbangkan konteks sebelum mengambil keputusan.

Dalam perspektif ini, AI berfungsi sebagai alat pendukung pekerjaan komunikasi, bukan satu-satunya sumber informasi atau pengganti penilaian kritis manusia. Kemampuan memadukan teknologi dengan pertimbangan etis dan pemahaman terhadap kebutuhan audiens menjadi bagian penting dari pengembangan komunikator strategis.

Memperluas Kolaborasi Kampus dan Industri

Grup 1 juga menyoroti perlunya memperkuat hubungan antara mahasiswa dan lingkungan industri secara lebih nyata. Pemahaman mahasiswa tidak seharusnya terbatas pada jenis pekerjaan atau posisi yang tersedia, tetapi juga mencakup konteks industri, nilai perusahaan, produk dan layanan, serta lingkungan bisnis tempat komunikasi dijalankan.

Sejumlah bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan meliputi kunjungan perusahaan (company visit), kuliah tamu dari praktisi (guest lecture), rencana pembelajaran berbasis industri (industry-based learning plan), pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), serta supervisi bersama untuk tugas akhir. Pertemuan rutin antara pihak akademik dan industri juga dapat menjadi sarana untuk memperbarui pemahaman mengenai perubahan kebutuhan kompetensi.

Grup 2: Keterampilan Digital Perlu Diimbangi Sikap Profesional

Grup 2 menilai mahasiswa BINUS secara umum telah memiliki kemampuan teknis dan digital yang cukup baik serta mampu bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Kekuatan tersebut terlihat dari keterampilan membuat konten, pemahaman terhadap media sosial, penguasaan tren digital, serta pemanfaatan teknologi dan AI.

Meskipun demikian, keterampilan digital perlu ditopang oleh kemampuan dasar yang kuat. Menulis, melakukan riset, mengerjakan tugas administratif, dan memahami karakteristik berbagai platform digital tetap diperlukan agar mahasiswa mampu menjalankan proses kerja secara menyeluruh, bukan hanya menghasilkan konten.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah adaptabilitas, inisiatif, fleksibilitas, dan kemandirian. Mahasiswa perlu didorong untuk lebih proaktif dalam mencari informasi, mengenali persoalan, dan mengembangkan solusi tanpa selalu menunggu arahan dari supervisor. Sikap tersebut penting karena lingkungan kerja menuntut kemampuan merespons perubahan dan menyelesaikan masalah secara bertanggung jawab.

Kesiapan mental juga menjadi bagian dari workplace readiness. Mahasiswa perlu memahami bahwa dunia industri memiliki tekanan, ritme, dan dinamika yang berbeda dari lingkungan akademik. Pengalaman internship dapat menjadi kesempatan untuk belajar menghadapi situasi tersebut sekaligus mengembangkan ketahanan dalam bekerja.

Attitude dan Professional Mindset Menjadi Pembeda

Selain kompetensi teknis, Grup 2 menekankan pentingnya sikap dan pola pikir profesional (professional mindset). Sopan santun, tanggung jawab, profesionalisme, empati, serta kemampuan memahami kebutuhan audiens dan lingkungan kerja merupakan kualitas yang perlu dikembangkan secara konsisten.

Internship juga perlu dipahami lebih dari sekadar kewajiban akademik untuk memenuhi persyaratan studi. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami budaya organisasi, berkontribusi terhadap pekerjaan, membangun relasi profesional, dan mempelajari standar kerja yang berlaku di industri.

Dengan demikian, keterampilan teknis yang baik perlu berjalan seiring dengan sikap kerja yang tepat. Kombinasi keduanya menjadi salah satu modal penting bagi mahasiswa untuk membangun kepercayaan, bekerja sama dengan tim, dan berkembang sebagai profesional.

Kurikulum dan Pembekalan Internship Perlu Terus Dikembangkan

Dalam pembahasan mengenai kurikulum, Grup 2 menilai pembelajaran yang ada secara umum telah cukup selaras dengan kebutuhan industri digital. Namun, kesesuaian tersebut tetap perlu diikuti penguatan persiapan mahasiswa sebelum memasuki lingkungan kerja.

Beberapa area yang dinilai perlu mendapat perhatian mencakup kemampuan riset dan penulisan, etika komunikasi, komunikasi berbasis komunitas, isu-isu terkini, serta pemahaman yang lebih realistis mengenai pengalaman internship. Pembekalan tersebut penting agar mahasiswa memiliki gambaran mengenai tanggung jawab, tantangan, dan ekspektasi yang akan dihadapi selama bekerja di organisasi.

Pengembangan pembelajaran karena itu perlu mempertimbangkan keseimbangan antara keterampilan teknis, kemampuan sosial, sikap profesional, adaptabilitas, dan kemandirian. Masukan dari supervisor dapat membantu kampus mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang telah dimiliki mahasiswa dan kemampuan yang dibutuhkan dalam praktik industri.

Menyiapkan Lulusan yang Adaptif dan Future Ready

Meskipun kedua kelompok diskusi menyoroti aspek yang berbeda, keduanya menunjukkan bahwa kesiapan kerja tidak dapat dibangun hanya melalui penguasaan teknologi. Kemampuan menggunakan platform digital, membuat konten, memahami media sosial, mengolah data, dan memanfaatkan AI perlu dilengkapi dengan kemampuan riset, menulis, berpikir kritis, berkomunikasi, beradaptasi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Grup 1 memberikan penekanan pada integrasi teknologi dengan analisis, kreativitas, human judgment, dan kesadaran etis. Sementara itu, Grup 2 menyoroti pentingnya inisiatif, kesiapan mental, sikap kerja, dan pola pikir profesional sebagai pendamping keterampilan digital mahasiswa.

Kedua perspektif tersebut menunjukkan bahwa lulusan yang future ready bukan sekadar individu yang menguasai teknologi terbaru. Mereka juga perlu mampu memahami kebutuhan organisasi, bekerja sama dengan orang lain, mengevaluasi informasi, dan menggunakan kompetensi yang dimiliki untuk menyelesaikan persoalan secara tepat.

Site Supervisor Gathering sebagai Jembatan Kampus dan Industri

Site Supervisor Gathering 2026 menjadi forum bagi Communication Department BINUS University untuk memperoleh masukan langsung dari pihak industri yang berinteraksi dengan mahasiswa selama program internship. Pengalaman supervisor dapat memberikan perspektif mengenai kekuatan mahasiswa, tantangan yang muncul di tempat kerja, serta kompetensi yang perlu diperkuat dalam proses pembelajaran.

Masukan tersebut juga membuka peluang untuk mengembangkan internship sebagai bagian yang lebih terintegrasi dengan kegiatan akademik. Pengalaman di tempat kerja dapat menjadi sumber pembelajaran, bahan refleksi, bahkan landasan untuk mengembangkan proyek, penelitian, atau tugas akhir mahasiswa.

Melalui dialog berkelanjutan dengan industri, Communication Department BINUS University memiliki ruang untuk terus mengevaluasi relevansi program internship dan menyesuaikan pengembangan kompetensi mahasiswa dengan dinamika profesi komunikasi.

Pada akhirnya, tujuan pengembangan tersebut bukan hanya menghasilkan lulusan yang terampil menggunakan perangkat digital dan AI, tetapi juga komunikator yang mampu berpikir kritis, memahami konteks, menjaga etika, menunjukkan sikap profesional, dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri.**